Bloggersignal.com – Seorang blogger Ortodoks Rusia sekaligus veteran perang Ukraina telah dijatuhi hukuman 15 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak di bawah umur dalam jangka panjang. Putusan ini keluar dari Pengadilan Distrik Krasnogvardeysky di Sankt Peterburg, yang menilai bukti-bukti selama persidangan sangat kuat terhadap terdakwa.
Terdakwa, yang dikenal publik dengan nama Klaud Rommel di kanal YouTube-nya, dituding melakukan kekerasan seksual terhadap anak perempuan mantan pacarnya secara berulang antara September 2022 hingga Februari 2024. Menurut dokumen dakwaan, Rommel yang memiliki sekitar 7.000 pengikut di YouTube dan dikenal sebagai vlogger Ortodoks yang sering membagikan konten keagamaan serta pengalaman di front perang melakukan pelecehan tersebut sejak korban masih sangat kecil.
Kronologi Kasus dan Penangkapan
Investigasi dimulai ketika bibi baptis korban melaporkan dugaan kekerasan kepada penegak hukum setelah mencurigai adanya perilaku tidak wajar antara Rommel dan anak tersebut. Selama penyelidikan, kepolisian menemukan bukti bahwa Rommel memindahkan si anak ke kamarnya dan melanjutkan kontak tidak pantas itu.
Pada 30 September 2024, Rommel ditangkap saat kasus masih dalam tahap diusut. Awalnya ia menyangkal tuduhan tersebut dan mengklaim kepada penyidik bahwa apa yang dilakukannya hanyalah ‘pijat medis’. Namun selama persidangan, fakta-fakta yang muncul menunjukkan pola pelanggaran berulang yang jelas terhadap anak itu, termasuk permintaan seksual yang sangat mengejutkan dari pria tersebut.
Uniknya, setelah laporan pertama dilayangkan, Rommel sempat berangkat ke zona perang Ukraina sebagai bagian dari latar belakang militernya, yang kemudian membuat proses hukum sempat tertunda. Ia kemudian kembali dan mengalami luka saat bertugas di garis depan sebelum akhirnya ditahan secara resmi ketika jaksa menolak permohonan pembebasan dengan jaminan.
Peran Media Sosial dan Reaksi Publik
Kasus ini telah menarik sorotan karena bukan hanya kasus kriminal yang serius, tetapi juga melibatkan publik figur yang memiliki pengikut di media sosial. Sebagai seorang vlogger Ortodoks, Rommel sering membagikan pandangan agamanya serta pengalaman tempur di medan perang, yang membuat beberapa pengikutnya melihatnya sebagai figur yang ‘relatable’ atau inspiratif. Namun kenyataan di luar layar justru jauh dari citra tersebut, menurut keterangan jaksa.
Reaksi publik terhadap putusan pengadilan sangat kuat, baik di Rusia maupun secara internasional. Banyak netizen di media sosial menyatakan kekecewaan mereka atas tindakan sang blogger dan menyambut baik keputusan hakim yang menjatuhkan hukuman panjang. Sebagian warga juga menyerukan tindakan lebih tegas terhadap penyalahgunaan figur publik di ruang digital, terutama yang melibatkan anak di bawah umur.
Penelitian Psikologis pada Korban
Psikolog anak yang diwawancarai secara tidak langsung dalam pemberitaan kasus ini menekankan bahwa kekerasan seksual terhadap anak, apalagi yang berlangsung dalam periode panjang, tidak hanya meninggalkan luka fisik tetapi dampak emosional jangka panjang yang mendalam.
“Trauma psikologis seringkali bertahan lama dan memerlukan dukungan profesional yang intensif,” menurut salah satu ahli dalam studi tersebut.
Menurut laporan media lokal, korban kini telah dipisahkan dari lingkungan terdakwa dan mendapat perawatan serta konseling. Upaya pemulihan dan dukungan keluarga menjadi fokus utama untuk membantu menghadapi dampak jangka panjang dari pengalaman traumatis itu.
Tantangan Hukum dan Sosial
Kasus ini memperlihatkan sejumlah tantangan dalam penegakan hukum di era digital, terutama ketika tersangka merupakan figur publik dan memiliki latar belakang militer serta blog yang populer. Hukuman 15 tahun penjara menunjukkan bahwa pengadilan Rusia melihat tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius yang memerlukan sanksi berat.
Pengamat hukum dan media menilai bahwa kasus ini dapat menjadi preseden penting bagi bagaimana perilaku kriminal melibatkan anak di bawah umur diproses, terutama ketika pelakunya adalah tokoh yang memiliki pengaruh publik. Mereka juga menyoroti pentingnya perlindungan lebih baik bagi anak-anak di masyarakat digital modern, yang kerap membuat pelaku mencoba menyamarkan niat jahatnya melalui akses ke ruang pribadi korban.
