Mon. Jan 12th, 2026
Influencer dan Misinformasi Jadi Sorotan, Bahaya Tersebar di Media Sosial

Bloggersignal.comFenomena influencer media sosial yang membagikan saran kesehatan kulit kini menarik perhatian serius para ahli kesehatan dan regulator. Di tengah meningkatnya ketertarikan masyarakat pada perawatan kulit (skincare) dan tren kecantikan digital, konten yang tidak akurat atau menyesatkan justru berpotensi membahayakan kesehatan publik. Banyak informasi yang viral tidak berdasarkan bukti medis, sehingga dinilai berisiko bagi pengguna internet yang mengandalkan influencer sebagai sumber edukasi utama.

Misinformasi Kulit di Media Sosial, Ancaman Nyata

Beberapa influencer kesehatan di media sosial telah menjadi sumber informasi yang viral tentang kesehatan kulit. Namun tidak semua konten yang mereka sampaikan berbasis ilmu yang kuat. Misalnya, sejumlah klaim yang beredar tentang tabir surya justru memicu kanker kulit atau bahwa berjemur untuk mendapatkan base tan itu sehat, sebenarnya tidak benar dan berbahaya. Penelitian dan laporan dermatolog menyebutkan beberapa klaim tertentu tidak memiliki basis ilmiah, dan bahkan dapat mengarah pada tindakan yang merugikan kesehatan kulit.

Fenomena ini juga tampak dalam tren live skincare di platform seperti TikTok dan Instagram, di mana influencer yang tidak memiliki kualifikasi profesional memberikan saran yang sering overclaim atau berlebihan mengenai penggunaan produk tertentu, tanpa mempertimbangkan kondisi kulit individu. Hal ini mengundang kekhawatiran dari banyak pakar bahwa klaim yang tidak akurat dapat menyesatkan konsumen, terutama mereka yang kurang memahami cara memilih produk yang tepat.

Risiko Konsumen dan Dampaknya

Misinformasi oleh influencer bisa mengarah pada konsekuensi nyata bagi kesehatan kulit masyarakat. Praktik seperti mencampur sendiri produk skincare tanpa pengetahuan yang memadai yang sering dipromosikan sebagai DIY skincare bisa menyebabkan iritasi, alergi, dan komplikasi kulit serius seperti hiperpigmentasi atau infeksi mikroba jika dilakukan tidak benar. Badan pengawas di beberapa negara pun telah mengeluarkan peringatan akan bahaya meracik skincare sendiri tanpa panduan profesional.

Selain itu, ada tren influencer yang mempromosikan produk kosmetik tanpa izin edar yang resmi. Pengawasan badan kesehatan di Indonesia seperti BPOM menunjukkan bahwa kosmetik ilegal masih sering ditemukan di media sosial, dan influencer diimbau untuk hati-hati dalam mempromosikan produk agar tidak menyebarkan informasi palsu atau produk yang berbahaya bagi konsumen.

Profesional Medis dan Etika Promosi

Isu etika juga muncul ketika tenaga medis sendiri turun ke media sosial sebagai influencer. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) pernah memperingatkan bahwa dokter dilarang mempromosikan produk perawatan kulit jika hal itu melanggar kode etik profesi, terutama jika digunakan identitas profesional dalam promosi. Ini bertujuan menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik terhadap informasi medis yang sebenar‑benarnya.

Upaya Edukasi dan Penanggulangan Misinformasi

Pakar kesehatan dan komunitas medis kini bekerja keras untuk mengatasi misinformasi ini. Di luar influencer, muncul juga dermfluencer dan akun profesional yang berbasis bukti ilmiah, memberikan edukasi benar mengenai kesehatan kulit, termasuk penggunaan tabir surya, perawatan kulit sesuai jenisnya, dan potensi bahaya dari klaim tidak realistis. Keterlibatan profesional ini semakin penting agar konten yang salah dapat diluruskan dan masyarakat mendapatkan panduan yang tepat.

Para peneliti juga menilai bahwa media sosial bisa menjadi tempat efektif untuk kampanye kesehatan yang berbasis fakta, asalkan dilakukan keterlibatan influencer yang bertanggung jawab dan dilengkapi pengetahuan medis yang benar. Model kerja sama antara ahli kesehatan dan pembuat konten juga sedang diuji untuk melawan misinfodemi penyebaran misinformasi besar‑besaran yang berbahaya bagi kesehatan khususnya pada platform seperti TikTok.

Pentingnya Literasi Informasi bagi Publik

Bagi pengguna media sosial, literasi informasi menjadi kunci utama. Mengandalkan satu sumber influencer tanpa memverifikasi kredibilitas atau bukti ilmiah dapat berujung pada keputusan perawatan yang merugikan. Konsumen diimbau untuk memeriksa latar belakang pembuat konten, memprioritaskan sumber terpercaya, serta mencari informasi dari sumber medis resmi atau profesional bersertifikat.

Misinformasi kesehatan kulit yang disebarkan oleh influencer di media sosial adalah masalah nyata yang bisa berdampak buruk bagi masyarakat. Konten yang tidak berbasis bukti bisa menimbulkan risiko kesehatan kulit, dari iritasi hingga perilaku perawatan yang salah. Oleh karena itu, perlu kolaborasi antara pihak medis, regulator, influencer bertanggung jawab, dan literasi publik untuk memastikan informasi yang akurat dan aman tersebar di ruang digital.

By admin