Bloggersignal.com – BYD (Build Your Dreams), produsen kendaraan listrik terbesar di dunia, meraih kemenangan hukum penting setelah pengadilan akhirnya memutuskan mendukung tuntutannya terhadap seorang blogger otomotif yang menyebarkan klaim yang dianggap merugikan reputasi salah satu produknya, Denza B5. Kasus ini menarik perhatian luas karena melibatkan isu informasi yang beredar di media sosial dan dampaknya terhadap reputasi serta penerimaan produk otomotif di pasar global.
Putusan pengadilan yang keluar pada 22 Januari 2026 menjatuhkan denda sebesar 2,01 juta yuan, setara sekitar Rp 4,8 miliar, kepada blogger yang terlibat, setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan pencemaran nama baik dan penyebaran informasi tidak benar terkait konsumsi bahan bakar SUV hibrida plug-in Denza B5.
Awal Kontroversi
Kasus ini bermula pada 28 November 2023, ketika seorang blogger otomotif berkebangsaan China bernama Yao Weiqiang mengunggah sebuah video di akun Douyin-nya (platform setara TikTok di China) yang memiliki jumlah pengikut lebih dari satu juta. Dalam video tersebut, Yao mengklaim bahwa Denza B5 SUV plug-in hybrid yang diproduksi oleh BYD mengonsumsi hingga 18 liter bensin per 100 km dalam kondisi berkendara normal. Klaim tersebut bertolak belakang jauh dengan angka resmi yang diumumkan BYD, yakni 1,79 liter per 100 km berdasarkan standar WLTC.
Unggahan Yao langsung memicu reaksi luas dari netizen otomotif maupun komunitas penggemar EV, terutama setelah beberapa warganet menemukan adanya pelanggaran lalu lintas dalam video tersebut. Polisi kemudian melakukan penyelidikan terhadap video dan data kendaraan yang terekam, yang menunjukkan bahwa Yao menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi secara berulang dan tidak mencerminkan kondisi ‘normal’ seperti yang ia klaim dalam videonya.
Data Investigasi dan Fakta Lainnya
Penyelidikan resmi mengungkapkan bahwa selama uji coba tersebut, Yao berkendara dengan kecepatan antara 140-160 km/jam untuk lebih dari 46 persen perjalanan, serta dalam rentang 120-140 km/jam untuk 37 persen perjalanan, bahkan sempat mencapai 180 km/jam pada beberapa titik. Kecepatan tinggi dan pola akselerasi-deselerasi yang tidak stabil ini secara signifikan meningkatkan konsumsi bahan bakar jauh di luar rata-rata kondisi berkendara ‘normal’. Temuan ini menjadi bukti kuat dalam persidangan bahwa klaim awal blogger tidak berdasar.
Selain itu, polisi menyimpulkan bahwa perilaku berkendara yang diperlihatkan dalam video tersebut juga membahayakan keselamatan jalan raya, dan bukanlah contoh yang layak dijadikan acuan dalam menilai konsumsi BBM sebuah kendaraan.
Tanggapan BYD dan Alasan Gugatan
BYD menyatakan bahwa klaim yang disebarkan Yao merusak reputasi produk Denza B5 dan mengganggu kepercayaan konsumen terhadap kendaraan tersebut. Sebagai respons, perusahaan menggugat sang blogger, menuntut permintaan maaf publik serta kompensasi sebesar 5 juta yuan (±Rp 12 miliar). Meski tuntutan awal jauh lebih besar, keputusan akhir pengadilan menetapkan ganti rugi 2,01 juta yuan kepada BYD.
Perwakilan BYD menegaskan bahwa meskipun perusahaan menghargai kritik dan pengawasan dari masyarakat, internet bukanlah wilayah tanpa hukum, dan penyebaran informasi yang jelas-jelas salah serta merugikan tidak bisa dibiarkan tanpa konsekuensi hukum. Ini juga mencerminkan komitmen BYD untuk melindungi reputasi produknya di tengah persaingan pasar otomotif yang sangat kompetitif.
Upaya BYD Melawan Misinformasi
Kemenangan dalam perkara ini bukanlah yang pertama bagi BYD dalam upaya hukum melawan disinformasi. Sejak 2025, perusahaan aktif menempuh jalur hukum terhadap konten bermasalah yang beredar di internet. Pada Juni 2025, BYD bahkan menggugat puluhan influencer yang dianggap menyebarkan informasi palsu, sambil mendirikan News Anti-Fraud Office sebagai bagian dari strategi melawan hoaks dan pencemaran nama baik.
Dampak dan Respon Publik
Putusan ini menuai beragam reaksi publik. Sebagian besar netizen mendukung langkah BYD dalam menegakkan kebenaran dan melindungi reputasi produk, sementara sebagian lain memperdebatkan batasan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab dalam pembuatan konten di era digital. Namun, kemenangan BYD dipandang sebagai langkah penting dalam menjaga standar industri dan melindungi hak merek serta reputasi perusahaan dari klaim yang tidak akurat dan merugikan.
