Wed. Feb 18th, 2026
Blogger Donya Hosseini Mulai Jalani Hukuman Penjara di Tehran

Bloggersignal.comDonya Hosseini, seorang blogger asal Iran, resmi mulai menjalani hukuman penjara di Evin Prison, Tehran, setelah otoritas Iran menahan dan memindahkannya minggu ini. Langkah ini menambah daftar kasus yang memicu perhatian internasional tentang tekanan terhadap kebebasan pers, hak berekspresi online, dan pembungkaman suara kritis dalam negeri.

Hosseini, yang dikenal juga dengan alias Donya Azad, ditangkap di rumahnya di Tehran pada 14 Februari 2026 dan keesokan harinya dipindahkan untuk mulai menjalani hukuman tiga tahun enam bulan penjara. Hukuman ini dijatuhkan oleh Pengadilan Revolusioner Tehran pada tahun lalu atas tuduhan propaganda melawan negara dalam upaya memperkuat rezim Zionis, tuduhan yang banyak dikritik oleh kelompok hak asasi sebagai bentuk kriminalisasi terhadap pendapat politik dan ekspresi online.

Kasus dan Proses Hukum Donya Hosseini

Hosseini awalnya menerima panggilan pengadilan pada 30 November 2025 untuk melapor ke cabang penegakan hukum guna memulai masa hukumannya, diikuti oleh pemberitahuan larangan bepergian pada 1 Desember. Sebelumnya, sertifikat hukuman dari Pengadilan Revolusioner (Branch 26), yang dipimpin oleh hakim Iman Afshari, telah dikukuhkan tanpa perubahan oleh Pengadilan Banding Tehran (Branch 36) pada November 2025.

Dalam catatan kasus sebelumnya, Hosseini pernah ditahan pada 16 Juni 2025 dan sempat dibebaskan dengan jaminan di Qarchak Prison pada Agustus setelah membayar penjaminan senilai 3 miliar toman. Ia juga menghadapi hukuman suspended sentence dan denda di satu kasus lain pada 2023, serta pernah ditangkap karena aktivitasnya selama protes besar di Iran.

Reaksi Komunitas Internasional

Kasus penahanan Hosseini menambah tekanan yang dialami oleh para penulis, jurnalis, dan blogger di Iran. Organisasi hak asasi seperti Reporters Without Borders dan PEN America sebelumnya menempatkan Iran sebagai salah satu negara dengan jumlah penjara terbanyak bagi penulis dan kritikus dalam indeks kebebasan menulis global hanya tertinggal dari China. Banyak dari mereka ditahan atas tuduhan yang ambigu dan luas, termasuk menghasut atau propaganda melawan negara.

Menurut laporan PEN America, tak sedikit penulis perempuan dan blogger yang mengalami kondisi penahanan yang sulit, pembatasan informasi, atau pembatasan penggunaan perangkat komunikasi selama masa hukuman mereka praktik yang memicu ocehan organisasi internasional tentang tekanan terhadap kebebasan berekspresi di Iran.

Konteks Situasi Kebebasan Berekspresi di Iran

Hukuman yang diterima Hosseini bukanlah kejadian unik dalam konteks daratan Iran. Banyak blogger, penulis, dan jurnalis yang telah mengalami penahanan, tuntutan hukum, maupun pembatasan ketika isi tulisan mereka dipandang oleh otoritas sebagai ancaman terhadap stabilitas negara atau ideologi yang berlaku. Kasus‑kasus ini sering ditangani melalui pengadilan khusus seperti Revolutionary Court, yang dikenal memiliki kriteria hukum sangat luas terkait materi tuntutan semacam propaganda terhadap negara atau mengancam keamanan nasional.

Ada banyak bukti sejarah atas langkah pemerintah Iran membatasi kebebasan berekspresi, termasuk terhadap blogger seperti penahanan Hossein Derakhshan, yang dijuluki bapak blogging Persia, pernah dipenjara panjang atas kritiknya terhadap pembatasan internet dan sensor online. Kasus lain menunjukkan sejumlah jurnalis dan blogger di negara itu telah menghadapi hukuman berat hanya karena mempublikasikan pendapat kritis atau meliput isu‑isu sensitif.

Dampak terhadap Komunitas Blogger dan Aktivis Online

Penahanan Hosseini disoroti tidak hanya oleh komunitas hak asasi manusia, tetapi juga oleh blogger dan aktivis digital di Iran dan luar negeri. Banyak yang melihat kasus ini sebagai bagian dari tren yang membatasi ruang ekspresi digital di negara tersebut pembatasan yang mencakup blokir situs, filter konten online, pemantauan ketat aktivitas internet, serta ancaman atau hukuman terhadap individu yang berbicara tentang isu‑isu politik atau sosial yang sensitif.

Kelompok HAM internasional telah menekankan pentingnya kebebasan berekspresi sebagai hak fundamental. Mereka juga menyerukan otoritas Iran untuk meninjau kembali praktik hukum yang luas dan sering disalahgunakan demi menargetkan suara‑suara netral atau damai dari jurnalis, blogger dan penulis.

Donya Hosseini kini resmi menjalani masa hukuman penjara di Tehran dengan tuduhan yang banyak mendapat sorotan global. Kasusnya mempertegas realitas sulitnya kebebasan berekspresi di Iran, terutama bagi mereka yang memanfaatkan platform online untuk menyuarakan pendapat atau kritik terhadap kebijakan pemerintah. Hal ini sekaligus menimbulkan diskusi yang lebih luas mengenai hak asasi, kebebasan pers, dan masa depan ruang digital bagi masyarakat sipil di negara itu.

By admin